Jumat, 07 Juni 2013

8 Juni



Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah HUJAN ES, DAN API, BERCAMPUR DARAH; DAN SEMUANYA ITU DILEMPARKAN KE BUMI; MAKA TERBAKARLAH SEPERTIGA DARI BUMI dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau” (Wahyu 8:7).

Kalau saja perang nuklir terjadi, berikut adalah saran ke mana kita harus berlindung. Di utara Taman Nasional Yellowstone, ada sebuah tempat yang disebut Lembah Firdaus. Pada pemandangan luar biasa di lembah ini, dengan mudah akan ditemukan: Peralatan ventilasi, pintu-pintu berbentuk kubah di punggung-punggung bukit, menara pengawas yang dapat berfungsi ganda sebagai kubu senapan mesin. Salah sebuah tempat perlindungan itu dinamai Bahtera Mark, seperti motel yang tertanam 6 meter di bawah tanah. Ketika seseorang bertanya kepada pembangunnya, “Mengapa engkau tidak tinggal di sini?” Dia berkata, “Apakah engkau gila? Satu-satunya alasan saya akan tinggal di sini, adalah jika situasi mengharuskan saya tinggal di sini.”
Bahtera Mark dipenuhi berbagai perlengkapan dan bahan makanan yang mungkin berguna pada masa pengungsian yang lama. Selanjutnya terdapat ruang penetralan dan sebuah ruang mesin dengan sejumlah besar bahan bakar tersimpan di sana. Tempat perlindungan utama adalah berukuran kirakira 10 meter lebarnya dan 40 meter panjangnya. Terdapat tiga lantai dan 40 kamar tidur. Juga memiliki klinik yang lengkap dan dapur umum yang besar, cukup memberi makan 150 orang, kata pendiri bangunan tersebut.
Tetapi mengapa 150 orang ingin pergi ke bawah tanah selama setahun? Semuanya diawali pada tahun 1980 ketika ramalan tentang perang nuklir dimulai sebuah kelompok agama lokal yang kontroversial, Gereja Universal dan Triumphant. Tren membangun tempat perlindungan segera menyebar ke gereja tetangga. Saat ini daerah itu memiliki sekitar 30 tempat perlindungan.
Menurut seorang yang kemungkinan besar akan tinggal di tempat itu, “Ketika hal itu telah terjadi, keseimbangan siklus udara akan terganggu. Arus angin yang keras yang seharusnya tinggal di atas, dapat turun ke permukaan, dan bayangkan, angin dengan kecepatan 490 km per jam pasti akan mengubah keseluruhan hidup kita.” Di Lembah Firdaus, mereka berpikir bahwa seluruh penduduk Amerika tidak bersiap-siap.
Kebanyakan orang-orang ini adalah orang Kristen yang konservatif, yang memandang sangkakala itu sebagai bencana alam yang akan menimpa seluruh manusia. Tetapi mereka salah memahami arti ayat ini. Menurut Wahyu, sangkakala adalah penghakiman Allah kepada mereka yang tidak percaya (Why. 8:3-5; 9:4). Jadi, jalan terbaik dan paling aman untuk menghadapi penghakiman Allah bukanlah tempat perlindungan di Montana, tetapi penurutan kepada Injil Yesus Kristus.

Tuhan, manakala duniaku “runtuh,” tolong aku untuk selalu percaya kepada-Mu.

Rabu, 05 Juni 2013

7 Juni



Lalu MALAIKAT ITU MENGAMBIL PEDUPAAN ITU, MENGISINYA DENGAN API DARI MEZBAH, DAN MELEMPARKANNYA KE BUMI. MAKA MELEDAKLAH BUNYI GURUH, DISERTAI HALILINTAR DAN GEMPA BUMI. Dan ketujuh malaikat yang memegang KETUJUH SANGKAKALA ITU bersiap-siap untuk meniup sangkakala itu” (Wahyu 8:5, 6).

Pada pukul 8 malam di tanggal 30 Oktober 1938, sebagian besar keluarga-keluarga Amerika berkumpul mengelilingi radio mereka mendengarkan program nomor satu di negeri, Edgar Bergen dan rekan bodohnya Charlie McCarthy. Namun di stasiun radio lain, disiarkan acara Mercury Theatre on the Air. Orson Welles mengawali acara dengan ramalan cuaca palsu diikuti musik. Dia menginterupsi musik dengan serangkaian berita singkat mengenai ledakan-ledakan di Planet Mars, diikuti oleh datangnya sebuah silinder aneh tepat di luar Kota Trenton, New Jersey.
Banyak pendengar saluran radio lain beralih ke siaran itu, mereka tertarik pada siaran berita singkat yang agaknya langsung. Acara itu mencakup wawancara palsu dengan kerumunan orang banyak dan sirene polisi di latar belakangnya. Seakan-akan benar-benar terjadi, dilaporkan adanya makhluk-makhluk mengerikan mengobrak-abrik sekitar New Jersey, menewaskan para polisi dan warga sipil. Makhluk angkasa luar dari Mars sedang menyerang semua orang.... Khayalan pendengar mulai menggila. Kepanikan massal menyebar ke seluruh negeri. Acara ini berhasil menipu bahkan para ilmuwan yang terpelajar.
Di Fayetteville, Indiana, keluarga Nickless menjadi khawatir terhadap nyawa mereka. Mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan berkendara sejauh satu setengah mil ke rumah Kakek. Kakek Nickless adalah seorang pria kuat yang berpandangan kokoh. Ia pasti tahu apa yang mesti diperbuat. Saat mereka tiba di tempat Kakek, mereka nyaris histeris. Teriak mereka, “Nyalakan radio!” Kakek mendengarkan sebentar lalu mulai tertawa. Ia memberitahu mereka bahwa itu suatu tipuan, itu hanya sebuah acara radio.
“Bagaimanakah Kakek tahu?” teriak mereka. Meraih Alkitabnya, Kakek berkata, “Menurut ini, dunia tidak akan berakhir dengan cara demikian.” Lalu dia mengingatkan mereka tentang Kitab Wahyu dan apa yang bakal terjadi. Setelah beberapa saat, keluarga Nickless menjadi tenang dan kembali ke rumah untuk menidurkan anak-anak. Kakek itu benar.
Hal-hal ganjil telah terjadi dan masih akan terus terjadi di dunia ini. Sangkakala Kitab Wahyu tidak menyembunyikan tanda-tanda bencana. Tetapi Yohanes menulis kitab tersebut bukan untuk menakut-nakuti kita. Sebaliknya, kitab itu memberikan jaminan kepada kita bahwa tidak peduli seburuk apa pun keadaan, pada akhirnya semuanya akan berakhir baik.

Tuhan, tenangkan kekhawatiran dan ketakutanku dengan jaminan dari Firman-Mu.

6 Juni



Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan DOA ORANGORANG KUDUS ITU dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” (Wahyu 8:4).

Sebuah kapal karam dalam badai dan hanya dua orang yang selamat. Mereka sanggup berenang ke pulau kecil yang menyerupai padang pasir. Dua orang yang selamat itu, tidak tahu apa yang mesti diperbuat, sepakat bahwa tidak ada yang bisa mereka perbuat selain berdoa pada Tuhan. Mereka memutuskan untuk menjadikan hal itu pertandingan doa. Untuk mengetahui doa siapa yang lebih efektif, mereka membagi dua pulau itu dan tinggal di masing-masing wilayah yang sudah ditetapkan.
Hal pertama yang mereka mohon adalah makanan. Keesokan paginya, pria yang pertama melihat pohon yang berbuah lebat di sisi pulau bagiannya, dan dia bisa memakan buahnya. Wilayah pria yang satunya tetap tandus. Setelah seminggu berlalu, pria yang pertama kesepian, dan dia berdoa memohon seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal lain yang karam di lepas pantai, dan satu-satunya yang selamat adalah seorang wanita yang berenang di sisi pulau bagiannya. Namun di bagian lain pulau tersebut, keadaan tidak berubah. Kemudian pria yang pertama berdoa memohon rumah, pakaian, dan lebih banyak makanan. Ajaibnya, dia menerima semua itu. Namun demikian, pria kedua tetap tidak menerima apa pun juga. Akhirnya, pria yang pertama berdoa memohon ada kapal datang, supaya dia dan istrinya bisa meninggalkan pulau tersebut. Di pagi harinya, dia mendapati sebuah kapal berlabuh di sisi pulau bagiannya.
Pria yang pertama itu naik ke kapal bersama istrinya dan memutuskan untuk meninggalkan pria yang kedua di pulau itu. Dia menganggap pria kedua itu tidak pantas menerima berkat-berkat Allah, karena tidak satu pun doanya yang dijawab. Saat kapal hendak bergerak berangkat, pria yang pertama itu mendengar suatu suara dari surga menggema, “Mengapakah engkau meninggalkan kawanmu di pulau itu?”
“Berkat-berkatku adalah milikku, karena akulah yang memohonkannya,” jawab pria pertama. “Doa-doanya tidak dijawab, jadi ia tidak pantas menerima apa pun juga.” “Engkau salah!” suara itu menegurnya. “Doanya hanya satu, dan itu Aku jawab. Jika bukan karena itu, engkau tidak akan menerima satu pun berkat-berkat-Ku.”
“Katakan padaku,” pria pertama bertanya pada suara itu, “apakah yang dia doakan sehingga aku harus berterima kasih kepadanya?” Jawab suara itu, “Dia berdoa agar semua doamu dijawab.”
Meskipun kita tidak senang untuk mengakuinya, seringkali keegoisan mewarnai doa-doa kita. Doa-doa orang-orang kudus sejati memperlihatkan sikap berkorban diri bagi sesama seperti yang diperlihatkan Yesus di kayu salib.

Tuhan, murnikan doa-doaku hari ini dengan “dupa” kebenaran-Mu.

5 Juni



Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan DOA SEMUA ORANG KUDUS di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan DOA ORANG-ORANG KUDUS ITU dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” (Wahyu 8:3, 4).

Apakah Allah masih menjawab doa-doa seperti dulu? Apakah Dia berbicara pada manusia seperti halnya Dia berbicara kepada Abraham? Di satu pagi buta, suara membangunkan Abraham, dan berkata, “Bawalah anakmu yang tunggal itu ke atas bukit yang ada di utara, serahkanlah dia sebagai korban bakaran.” Jika Anda adalah Abraham, apakah yang akan Anda lakukan?
Bagaimanakah dia bisa mengetahui bahwa permintaan yang aneh itu berasal dari Allah? Saya rasa Abraham sepanjang hidupnya, telah sering melakukan perbincangan dan berjalan bersama Allah. Dia dapat mengetahui kapan Allah sedang berbicara kepadanya, dan dapat membedakan jika itu hanya sekadar perasaannya saja atau pengaruh dari luar. Abraham telah melakukan eksperimen dengan Allah, sehingga dia mengetahui kapan Allah berbicara.
Apakah Allah masih berbicara kepada manusia saat ini? Saya mempraktikkan proses berikut ini. Sebelum berdoa, saya mengambil pensil dan kertas. Setelah selesai berdoa, saya akan tetap duduk dan dengan diam menunggu. Lalu saya menuliskan pemikiran atau gagasan yang terlintas dalam benak saya. Pada waktu-waktu seperti itu, kebanyakan pemikiran biasanya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya saat itu. Tetapi beberapa sepertinya menjanjikan. Saya menguji ide-ide ini dengan Firman Allah, dan menghapus semua ide yang berlawanan dengan Firman Allah. Saya menguji semua gagasan itu dengan pengalaman dan mengamati hasilnya. Misalnya, jika saya terdorong untuk menelepon seseorang, saya melakukannya! Entah sesuatu berasal dari Allah ataukah tidak, itu bisa dibedakan dengan cara menguji kesan-kesan yang kita alami.
Seorang mahasiswa yang mendengar saran saya memutuskan untuk mencobanya. Setelah berdoa, dia merasa terdorong untuk menelepon seorang wanita di Kanada. Karena ketika itu istrinya sedang di Kanada, maka dia menelepon istrinya dan memintanya menghubungi wanita itu. Istrinya mencoba beberapa kali, tapi tidak berhasil. Mahasiswa itu meminta istrinya untuk terus mencoba. Kali berikutnya dia mencoba, wanita itu yang mengangkat telepon. “Suami saya meninggal tiga hari yang lalu,” katanya, “dan saya baru saja kembali dari dokter yang mendiagnosis saya mengidap kanker. Saya sedang duduk di samping telepon, bertanya-tanya apakah ada orang yang peduli!”
Tidak perlu dikatakan lagi, saya dan mahasiswa saya percaya bahwa Allah masih menjawab doa.

Tuhan, sentuh hatiku hari ini dengan apa pun juga yang Engkau ingin agar aku lakukan. Aku terbuka pada pimpinan-Mu.