Jumat, 07 Juni 2013

10 Juni



LALU MALAIKAT YANG KETIGA MENIUP SANGKAKALANYA DAN JATUHLAH DARI LANGIT SEBUAH BINTANG BESAR, MENYALA-NYALA SEPERTI OBOR, DAN IA MENIMPA SEPERTIGA DARI SUNGAI-SUNGAI DAN MATA-MATA AIR. NAMA BINTANG ITU IALAH APSINTUS. DAN SEPERTIGA DARI SEMUA AIR MENJADI APSINTUS, DAN BANYAK ORANG MATI KARENA AIR ITU, SEBAB SUDAH MENJADI PAHIT” (Wahyu 8:10, 11).

Bahasa dari sangkakala ini menggemakan Perjanjian Lama. Misalnya, jatuhnya bintang mengingatkan tentang Lusifer jatuh dari surga di dalam Yesaya 14. Lusifer, yang mengklaim ingin menjadi seperti Allah, diusir dari surge seperti bintang jatuh dari langit (Why 8:10). Kitab Suci sering mengaitkan obor, atau pelita, dengan Firman Allah (Mzm. 119:105; Ams. 6:23). Namun di sini Yohanes mengaitkan itu dengan sebuah bintang jatuh, jadi itu melambangkan lawan dari kebenaran. Dengan demikian, kejatuhan itu mewakili kemunduran rohani (Why. 2:5; Ibr. 4:11). Bintang jatuh itu bersinar seperti Firman Allah, tetapi bukan yang sebenarnya. Gambaran-gambaran ini sesuai dengan kepahitan yang terjadi pada sungai-sungai dan mata air yang terdapat
dalam ayat hari ini. Sungai dan mata air melambangkan minuman rohani. Sama seperti kita membutuhkan air untuk hidup, demikian juga kita membutuhkan minuman rohani (Roh Kudus—Yoh. 7:37-39; Mzm. 1:3) agar iman kita tetap hidup.
Namun demikian, saat bintang jatuh itu menimpa sungai-sungai dan mata-mata air, hal itu membuat air menjadi pahit. Orang-orang mencari pemenuhan dari Roh dan kebenaran, tetapi malah sebaliknya, teracuni oleh air yang telah menjadi pahit. Dalam Perjanjian Lama, apsintus dan kepahitan merupakan simbol yang tetap karena kemurtadan dan penyembahan berhala (Ul. 29:17, 18). Karena air kebenaran telah diracuni, hal yang seharusnya menjadi kehidupan yang menjanjikan berubah menjadi sumber kematian. Air yang pahit tidak dapat menopang kehidupan (Rat. 3:15, 19; Kel. 15:23).
Sangat menjengkelkan ketika membeli program komputer yang mencakup petunjuk penggunaannya yang penuh dengan informasi campur aduk. Petunjuk penggunaan itu mengatakan, “Jika Anda ingin mengerjakan ini, lakukan ini dan ini.” Tetapi saat Anda melakukan apa yang diperintahkan petunjuk itu, tidak terjadi apa-apa atau komputer menjadi rusak.
Nah, mudah-mudahan itu tidak Anda alami. Tetapi dalam dunia rohani, hal itu masih sering terjadi. Orang-orang dihadapkan pada segala jenis informasi palsu mengenai Allah dan kehidupan rohani. Saat mereka memercayainya, “program komputer” rohani mereka mulai tak berfungsi, dan akibatnya sungguh berat.

Tuhan, tolong aku untuk lebih serius dengan apa yang aku yakini. Aku tidak ingin memiliki iman yang biasa-biasa saja—aku menginginkan iman yang akan bertahan apa pun juga yang terjadi.

9 Juni



Lalu malaikat yang kedua meniup sangkakalanya dan ada sesuatu SEPERTI GUNUNG BESAR, YANG MENYALA-NYALA OLEH API, DILEMPARKAN KE DALAM LAUT. DAN SEPERTIGA DARI LAUT ITU MENJADI DARAH, dan matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga dari semua kapal” (Wahyu 8:8, 9).

Fakta bahwa air berubah menjadi darah mengingatkan kita pada tulah pertama dalam Keluaran (Kel. 7:19-21). Mengubah Sungai Nil menjadi darah akan menghancurkan kenyamanan dan perekonomian Mesir dalam sekejap. Kehidupan Mesir zaman dulu maupun sekarang adalah Sungai Nil.
Jika Anda pernah mengunjungi Mesir, Anda akan tahu bahwa negeri itu adalah negeri yang subur dan produktif di sepanjang tepian Sungai Nil, tetapi beberapa mil jauhnya dari sungai tersebut Anda akan mendapati tanah yang paling kering dan tandus. Setiap kali saya berkesempatan untuk mengunjungi padang-padang pasir Mesir, saya harus minum air beberapa liter sekembalinya dari Nil atau akan sakit kepala yang parah!
Ayat kita hari ini berisikan kutipan yang jelas tentang penghakiman Allah terhadap Babel purba, “Sesungguhnya, Aku menjadi lawanmu, hai gunung pemusnah, demikianlah Firman Tuhan, yang memusnahkan seluruh bumi! Aku akan mengacungkan tangan-Ku kepadamu, menggulingkan engkau dari bukit batu, dan membuat engkau menjadi gunung api yang telah padam” (Yer. 51:25). Dalam Yeremia 51, Allah mengumumkan penghakiman atas Babel dikarenakan dia telah menindas umat Allah. Jadi sangkakala kedua memadukan elemen-elemen penghakiman zaman Perjanjian Lama kepada Mesir dan Babel. Yang menarik adalah kedua negeri ini, dulu maupun sekarang, bertanah datar, kering, serta bergantung pada sungai-sungai besar yang melalui negeri itu.
Tetapi seandainya Babel berlokasi di sebuah lembah sungai yang datar, mengapa ayat ini berbicara tentang sebuah gunung? Itu adalah referensi simbolik. Daniel 2 menggambarkan kerajaan Allah dengan istilah gunung yang besar. Jadi gambaran Yeremia menyatakan bahwa Babel adalah lawan besar terhadap kerajaan Allah yang sejati. Sangkakala menjanjikan bahwa Allah akan menghancurkan lawan itu di “perairannya” sendiri.
Penghakiman simbolik yang diwakili oleh sangkakala yang kedua mungkin mencerminkan dengan baik keruntuhan Kekaisaran Romawi, suatu peristiwa yang akan terjadi di masa depan pada saat Yohanes menulis Kitab Wahyu. Dari sudut pandang para pembaca pertama, kekaisaran itu tampaknya tak terkalahkan. Tetapi penglihatan menyakinkan nabi ini bahwa Allah menandai tingkah laku penindas di bumi ini, dan Dia bertindak dalam waktu yang tepat.

Tuhan, yakinkan aku bahwa segala sesuatunya tetap berada dalam kendali-Mu. Semoga aku tetap sabar menantikan campur tangan-Mu.

8 Juni



Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah HUJAN ES, DAN API, BERCAMPUR DARAH; DAN SEMUANYA ITU DILEMPARKAN KE BUMI; MAKA TERBAKARLAH SEPERTIGA DARI BUMI dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau” (Wahyu 8:7).

Kalau saja perang nuklir terjadi, berikut adalah saran ke mana kita harus berlindung. Di utara Taman Nasional Yellowstone, ada sebuah tempat yang disebut Lembah Firdaus. Pada pemandangan luar biasa di lembah ini, dengan mudah akan ditemukan: Peralatan ventilasi, pintu-pintu berbentuk kubah di punggung-punggung bukit, menara pengawas yang dapat berfungsi ganda sebagai kubu senapan mesin. Salah sebuah tempat perlindungan itu dinamai Bahtera Mark, seperti motel yang tertanam 6 meter di bawah tanah. Ketika seseorang bertanya kepada pembangunnya, “Mengapa engkau tidak tinggal di sini?” Dia berkata, “Apakah engkau gila? Satu-satunya alasan saya akan tinggal di sini, adalah jika situasi mengharuskan saya tinggal di sini.”
Bahtera Mark dipenuhi berbagai perlengkapan dan bahan makanan yang mungkin berguna pada masa pengungsian yang lama. Selanjutnya terdapat ruang penetralan dan sebuah ruang mesin dengan sejumlah besar bahan bakar tersimpan di sana. Tempat perlindungan utama adalah berukuran kirakira 10 meter lebarnya dan 40 meter panjangnya. Terdapat tiga lantai dan 40 kamar tidur. Juga memiliki klinik yang lengkap dan dapur umum yang besar, cukup memberi makan 150 orang, kata pendiri bangunan tersebut.
Tetapi mengapa 150 orang ingin pergi ke bawah tanah selama setahun? Semuanya diawali pada tahun 1980 ketika ramalan tentang perang nuklir dimulai sebuah kelompok agama lokal yang kontroversial, Gereja Universal dan Triumphant. Tren membangun tempat perlindungan segera menyebar ke gereja tetangga. Saat ini daerah itu memiliki sekitar 30 tempat perlindungan.
Menurut seorang yang kemungkinan besar akan tinggal di tempat itu, “Ketika hal itu telah terjadi, keseimbangan siklus udara akan terganggu. Arus angin yang keras yang seharusnya tinggal di atas, dapat turun ke permukaan, dan bayangkan, angin dengan kecepatan 490 km per jam pasti akan mengubah keseluruhan hidup kita.” Di Lembah Firdaus, mereka berpikir bahwa seluruh penduduk Amerika tidak bersiap-siap.
Kebanyakan orang-orang ini adalah orang Kristen yang konservatif, yang memandang sangkakala itu sebagai bencana alam yang akan menimpa seluruh manusia. Tetapi mereka salah memahami arti ayat ini. Menurut Wahyu, sangkakala adalah penghakiman Allah kepada mereka yang tidak percaya (Why. 8:3-5; 9:4). Jadi, jalan terbaik dan paling aman untuk menghadapi penghakiman Allah bukanlah tempat perlindungan di Montana, tetapi penurutan kepada Injil Yesus Kristus.

Tuhan, manakala duniaku “runtuh,” tolong aku untuk selalu percaya kepada-Mu.

Rabu, 05 Juni 2013

7 Juni



Lalu MALAIKAT ITU MENGAMBIL PEDUPAAN ITU, MENGISINYA DENGAN API DARI MEZBAH, DAN MELEMPARKANNYA KE BUMI. MAKA MELEDAKLAH BUNYI GURUH, DISERTAI HALILINTAR DAN GEMPA BUMI. Dan ketujuh malaikat yang memegang KETUJUH SANGKAKALA ITU bersiap-siap untuk meniup sangkakala itu” (Wahyu 8:5, 6).

Pada pukul 8 malam di tanggal 30 Oktober 1938, sebagian besar keluarga-keluarga Amerika berkumpul mengelilingi radio mereka mendengarkan program nomor satu di negeri, Edgar Bergen dan rekan bodohnya Charlie McCarthy. Namun di stasiun radio lain, disiarkan acara Mercury Theatre on the Air. Orson Welles mengawali acara dengan ramalan cuaca palsu diikuti musik. Dia menginterupsi musik dengan serangkaian berita singkat mengenai ledakan-ledakan di Planet Mars, diikuti oleh datangnya sebuah silinder aneh tepat di luar Kota Trenton, New Jersey.
Banyak pendengar saluran radio lain beralih ke siaran itu, mereka tertarik pada siaran berita singkat yang agaknya langsung. Acara itu mencakup wawancara palsu dengan kerumunan orang banyak dan sirene polisi di latar belakangnya. Seakan-akan benar-benar terjadi, dilaporkan adanya makhluk-makhluk mengerikan mengobrak-abrik sekitar New Jersey, menewaskan para polisi dan warga sipil. Makhluk angkasa luar dari Mars sedang menyerang semua orang.... Khayalan pendengar mulai menggila. Kepanikan massal menyebar ke seluruh negeri. Acara ini berhasil menipu bahkan para ilmuwan yang terpelajar.
Di Fayetteville, Indiana, keluarga Nickless menjadi khawatir terhadap nyawa mereka. Mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan berkendara sejauh satu setengah mil ke rumah Kakek. Kakek Nickless adalah seorang pria kuat yang berpandangan kokoh. Ia pasti tahu apa yang mesti diperbuat. Saat mereka tiba di tempat Kakek, mereka nyaris histeris. Teriak mereka, “Nyalakan radio!” Kakek mendengarkan sebentar lalu mulai tertawa. Ia memberitahu mereka bahwa itu suatu tipuan, itu hanya sebuah acara radio.
“Bagaimanakah Kakek tahu?” teriak mereka. Meraih Alkitabnya, Kakek berkata, “Menurut ini, dunia tidak akan berakhir dengan cara demikian.” Lalu dia mengingatkan mereka tentang Kitab Wahyu dan apa yang bakal terjadi. Setelah beberapa saat, keluarga Nickless menjadi tenang dan kembali ke rumah untuk menidurkan anak-anak. Kakek itu benar.
Hal-hal ganjil telah terjadi dan masih akan terus terjadi di dunia ini. Sangkakala Kitab Wahyu tidak menyembunyikan tanda-tanda bencana. Tetapi Yohanes menulis kitab tersebut bukan untuk menakut-nakuti kita. Sebaliknya, kitab itu memberikan jaminan kepada kita bahwa tidak peduli seburuk apa pun keadaan, pada akhirnya semuanya akan berakhir baik.

Tuhan, tenangkan kekhawatiran dan ketakutanku dengan jaminan dari Firman-Mu.