Rabu, 05 Juni 2013

6 Juni



Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan DOA ORANGORANG KUDUS ITU dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” (Wahyu 8:4).

Sebuah kapal karam dalam badai dan hanya dua orang yang selamat. Mereka sanggup berenang ke pulau kecil yang menyerupai padang pasir. Dua orang yang selamat itu, tidak tahu apa yang mesti diperbuat, sepakat bahwa tidak ada yang bisa mereka perbuat selain berdoa pada Tuhan. Mereka memutuskan untuk menjadikan hal itu pertandingan doa. Untuk mengetahui doa siapa yang lebih efektif, mereka membagi dua pulau itu dan tinggal di masing-masing wilayah yang sudah ditetapkan.
Hal pertama yang mereka mohon adalah makanan. Keesokan paginya, pria yang pertama melihat pohon yang berbuah lebat di sisi pulau bagiannya, dan dia bisa memakan buahnya. Wilayah pria yang satunya tetap tandus. Setelah seminggu berlalu, pria yang pertama kesepian, dan dia berdoa memohon seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal lain yang karam di lepas pantai, dan satu-satunya yang selamat adalah seorang wanita yang berenang di sisi pulau bagiannya. Namun di bagian lain pulau tersebut, keadaan tidak berubah. Kemudian pria yang pertama berdoa memohon rumah, pakaian, dan lebih banyak makanan. Ajaibnya, dia menerima semua itu. Namun demikian, pria kedua tetap tidak menerima apa pun juga. Akhirnya, pria yang pertama berdoa memohon ada kapal datang, supaya dia dan istrinya bisa meninggalkan pulau tersebut. Di pagi harinya, dia mendapati sebuah kapal berlabuh di sisi pulau bagiannya.
Pria yang pertama itu naik ke kapal bersama istrinya dan memutuskan untuk meninggalkan pria yang kedua di pulau itu. Dia menganggap pria kedua itu tidak pantas menerima berkat-berkat Allah, karena tidak satu pun doanya yang dijawab. Saat kapal hendak bergerak berangkat, pria yang pertama itu mendengar suatu suara dari surga menggema, “Mengapakah engkau meninggalkan kawanmu di pulau itu?”
“Berkat-berkatku adalah milikku, karena akulah yang memohonkannya,” jawab pria pertama. “Doa-doanya tidak dijawab, jadi ia tidak pantas menerima apa pun juga.” “Engkau salah!” suara itu menegurnya. “Doanya hanya satu, dan itu Aku jawab. Jika bukan karena itu, engkau tidak akan menerima satu pun berkat-berkat-Ku.”
“Katakan padaku,” pria pertama bertanya pada suara itu, “apakah yang dia doakan sehingga aku harus berterima kasih kepadanya?” Jawab suara itu, “Dia berdoa agar semua doamu dijawab.”
Meskipun kita tidak senang untuk mengakuinya, seringkali keegoisan mewarnai doa-doa kita. Doa-doa orang-orang kudus sejati memperlihatkan sikap berkorban diri bagi sesama seperti yang diperlihatkan Yesus di kayu salib.

Tuhan, murnikan doa-doaku hari ini dengan “dupa” kebenaran-Mu.

5 Juni



Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan DOA SEMUA ORANG KUDUS di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan DOA ORANG-ORANG KUDUS ITU dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” (Wahyu 8:3, 4).

Apakah Allah masih menjawab doa-doa seperti dulu? Apakah Dia berbicara pada manusia seperti halnya Dia berbicara kepada Abraham? Di satu pagi buta, suara membangunkan Abraham, dan berkata, “Bawalah anakmu yang tunggal itu ke atas bukit yang ada di utara, serahkanlah dia sebagai korban bakaran.” Jika Anda adalah Abraham, apakah yang akan Anda lakukan?
Bagaimanakah dia bisa mengetahui bahwa permintaan yang aneh itu berasal dari Allah? Saya rasa Abraham sepanjang hidupnya, telah sering melakukan perbincangan dan berjalan bersama Allah. Dia dapat mengetahui kapan Allah sedang berbicara kepadanya, dan dapat membedakan jika itu hanya sekadar perasaannya saja atau pengaruh dari luar. Abraham telah melakukan eksperimen dengan Allah, sehingga dia mengetahui kapan Allah berbicara.
Apakah Allah masih berbicara kepada manusia saat ini? Saya mempraktikkan proses berikut ini. Sebelum berdoa, saya mengambil pensil dan kertas. Setelah selesai berdoa, saya akan tetap duduk dan dengan diam menunggu. Lalu saya menuliskan pemikiran atau gagasan yang terlintas dalam benak saya. Pada waktu-waktu seperti itu, kebanyakan pemikiran biasanya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya saat itu. Tetapi beberapa sepertinya menjanjikan. Saya menguji ide-ide ini dengan Firman Allah, dan menghapus semua ide yang berlawanan dengan Firman Allah. Saya menguji semua gagasan itu dengan pengalaman dan mengamati hasilnya. Misalnya, jika saya terdorong untuk menelepon seseorang, saya melakukannya! Entah sesuatu berasal dari Allah ataukah tidak, itu bisa dibedakan dengan cara menguji kesan-kesan yang kita alami.
Seorang mahasiswa yang mendengar saran saya memutuskan untuk mencobanya. Setelah berdoa, dia merasa terdorong untuk menelepon seorang wanita di Kanada. Karena ketika itu istrinya sedang di Kanada, maka dia menelepon istrinya dan memintanya menghubungi wanita itu. Istrinya mencoba beberapa kali, tapi tidak berhasil. Mahasiswa itu meminta istrinya untuk terus mencoba. Kali berikutnya dia mencoba, wanita itu yang mengangkat telepon. “Suami saya meninggal tiga hari yang lalu,” katanya, “dan saya baru saja kembali dari dokter yang mendiagnosis saya mengidap kanker. Saya sedang duduk di samping telepon, bertanya-tanya apakah ada orang yang peduli!”
Tidak perlu dikatakan lagi, saya dan mahasiswa saya percaya bahwa Allah masih menjawab doa.

Tuhan, sentuh hatiku hari ini dengan apa pun juga yang Engkau ingin agar aku lakukan. Aku terbuka pada pimpinan-Mu.

Senin, 03 Juni 2013

4 Juni

Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak KEMENYAN untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas MEZBAH EMAS di hadapan takhta itu” (Wahyu 8:3, 4).

Seorang pendeta yang sedang berlibur, menyewa perahu layar di lautan Karibia. Dia dan keluarganya sangat menikmati perpaduan teriknya matahari dengan sejuknya tiupan angin laut. Itu adalah istirahat yang sangat menyenangkan dari tekanan pekerjaan sehari-hari. Lalu mereka mendaratkan perahu mereka di sebuah pulau kecil berpasir dengan pohon-pohon palem. Tidak lama kemudian, ada pasangan yang melabuhkan perahu yacht besar ber-AC bergabung dengan mereka beberapa meter jauhnya. Setelah berkenalan, sang pendeta menyinggung sedikit tentang pekerjaannya. Namun walaupun jelas-jelas pasangan tersebut adalah orang sekular, tampaknya mereka tidak merasa terganggu. Malah, mereka mengundang sang pendeta dan keluarganya makan malam bersama mereka di atas yacht. Sang pendeta mencari kesempatan baik untuk menyaksikan perbedaan yang bisa dibuat Yesus dalam kehidupan ini, bahkan bagi mereka yang kelihatannya memiliki segalanya. Tetapi dia tidak pernah memperolehnya. Tidak lama kemudian matahari pun terbenam, dan dia sadar bahwa dia harus kembali ke perahu layarnya dan pulang ke resor sebelum hari gelap.
Keluarga itu mengucapkan selamat berpisah pada pasangan itu dan menuruni tangga ke perahu layar yang ditambatkan di samping yacht. Setelah istri dan anak-anaknya turun ke perahu layar, pendeta itu pun berjalan menuju ke tangga. Tepat pada saat itu salah seorang dari pasangan itu mencondongkan tubuh melewati pagar pembatas, menatap ke bawah kepadanya dan bertanya, “Apa artinya menjadi seorang Kristen?” Pendeta itu menengadah, sadar bahwa dia tidak boleh buang-buang waktu untuk segera menjawab!
“Agama artinya perbuatan,” jawabnya. “Kekristenan berarti sudah diperbuat. Iman Kristen bukan membicarakan apa yang kita lakukan bagi Allah, tapi apa yang Allah telah lakukan bagi kita.” Karena saliblah maka umat manusia diterima Allah. Manusia dapat menemukan arti dan tujuan kehidupan ini, karena Allah telah bertindak membuat semuanya mungkin terjadi.
Itulah arti dari kemenyan di atas mezbah. Kemenyan berasal dari mezbah korban bakaran. Korbanlah yang membuat kemenyan diperlukan. Salib adalah dasar dari segala sesuatu yang Allah lakukan kepada umat-Nya. Karena semua yang telah terjadi di kayu salib, Yesus menyediakan pengampunan. Dalam kebiasaan sehari-hari pada zaman Perjanjian Lama, dupa senantiasa menaungi tempat itu, menutupi umat dari dosa-dosa mereka. Saat kita kehilangan kemuliaan Allah, “dupa” yaitu kebenaran Kristus juga menudungi kehidupan kita.


Tuhan, terima kasih atas penerimaan-Mu yang sempurna bagi diriku hari ini di dalam Kristus. Semoga aku merasakan kebenaran-Mu.

3 Juni

Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, DAN KEPADA MEREKA DIBERIKAN TUJUH SANGKAKALA” (Wahyu 8:2).

Suatu hari kawan saya, Jim, berada di Beijing, Cina, dan membutuhkan sepatu ukuran 11. Nah, mendapatkan sepatu ukuran 11 tidak masalah di Amerika Utara atau Eropa, namun sesuatu yang mustahil di Cina. Jim menelusuri pasar terbuka yang menjual sepatu-sepatu baru, namun tak ada yang muat.
Di sebuah toko, akhirnya Jim menemukan sepasang sepatu sesuai ukuran kakinya, namun tidak cocok dengan seleranya. Pramuniaga memohonnya membeli sepatu itu dan menurunkan harganya. Dengan sopan Jim mengucapkan terima kasih dan berusaha pergi dari situ. Si pramuniaga menahan lengannya erat-erat, dan merayu Jim untuk membelinya sambil memberikan diskon lumayan besar. Setelah beberapa menit, Jim meloloskan diri dan melanjutkan pencariannya. Tak disangka-sangka, si pramuniaga mengikuti Jim sambil memegang sepatu itu (kini harganya turun menjadi $8). Agar si pramuniaga tidak mengganggunya lagi, akhirnya Jim membeli sepatu itu. Seandainya pramuniaga itu tidak gigih, Jim pasti tidak membeli sepatu itu.
Konsep sangkakala memiliki latar belakang yang kaya di dalam Perjanjian Lama. Enam kata Bahasa Ibrani dan dua kata Bahasa Yunani diterjemahkan sebagai “sangkakala” dan “meniup sangkakala.” Dari ke-134 penggunaannya dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani, 75 di antaranya adalah dalam konteks pemujaan, 33 merujuk situasi perang, dan 10 memperingatkan bahwa musuh sedang mendekat (Yeh. 33).
Yang terpenting dari referensi-referensi ini adalah Bilangan 10:8-10. Sangkakala itu perkakas suci yang digunakan dalam ibadah maupun dalam peperangan. Tiupan sangkakala bagaikan seruan agar Allah mengingat perjanjian-Nya. Saat Dia mendengar seruan sangkakala umat-Nya, maka Dia melindungi dan membela umat-Nya dalam peperangan (ayat 9). Dan saat para imam meniup sangkakala atas korban-korban dalam penyembahan bangsa Israel, Allah “mengingat” umat-Nya dan mengampuni dosa-dosa mereka (ayat 10). Dengan demikian, manakala imam-imam membunyikan sangkakala, Allah bertindak. Jadi peniupan sangkakala merupakan simbol perjanjian doa. Saat umat Allah berdoa atas dasar janji-Nya, maka Dia akan menjawab. Dia akan membebaskan mereka dari musuh-musuh mereka dan juga dari dosa.
Sepintas, ketujuh sangkakala itu seperti rangkaian doa untuk peperangan dan bencana. Tetapi lebih mendalam, sangkakala itu menunjukkan suatu konsep rohani. Itu menyimbolkan seruan umat Allah agar Dia menegakkan kebenaran di bumi ini. Dan seperti pramuniaga sepatu di Beijing, tidak percuma jika kita bertekun berseru dalam doa.


Tuhan, tolong aku agar tidak balas dendam di dalam kehidupanku seharihari. Sebaliknya, memercayai Engkau untuk melakukan yang benar dan membereskan “musuh-musuhku” jika memang perlu.

Jumat, 31 Mei 2013

2 Juni

Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, MAKA SUNYI SENYAPLAH DI SORGA, KIRA-KIRA SETENGAH JAM LAMANYA.... Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia PERGI BERDIRI DEKAT MEZBAH DENGAN SEBUAH PEDUPAAN EMAS. DAN KEPADANYA DIBERIKAN BANYAK KEMENYAN untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.... Lalu MALAIKAT ITU MENGAMBIL PEDUPAAN ITU, MENGISINYA DENGAN API DARI MEZBAH, DAN MELEMPARKANNYA KE BUMI. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi. Dan KETUJUH MALAIKAT YANG MEMEGANG KETUJUH SANGKAKALA ITU bersiap-siap untuk meniup sangkakala” (Wahyu 8:1-6).

Hari itu adalah pagi hari seperti biasanya di Bait Suci di Yerusalem, kurang lebih pada zaman Yesus hidup. Para imam sedang tidur di kamar-kamar di kamar atas yang ditopang tiang-tiang penopang atap yang mengelilingi pelataran luar Bait Allah. Tidak lama setelah ayam berkokok, yang bertugas hari itu mengetuk pintu-pintu. Lalu dia membagi tugas pada upacara harian itu.
Pada tengah hari, mereka menggiring seekor domba ke pelataran. Sementara seorang imam bersiap menyembelih domba tersebut, imam yang lain memasuki Bait Suci untuk membersihkan abu mezbah ukupan dan menyalakan kandil di bilik kudus (Why. 1:12-16). Dibukanya pintu utama menuju ke dalam Bait Suci (Why. 4:1) merupakan pertanda untuk menyembelih domba (Why. 5:6-10). Para imam lalu membawa potongan-potongan domba tersebut ke mezbah korban bakaran dan mencurahkan darahnya di bawah mezbah (Why. 6:9-11). Imam yang ditunjuk lalu mengambil pedupaan emas (Why. 8:3-5). Benda itu mirip wajan penggorengan dengan tangkai panjang dan penutup. Imam mengisinya dengan bara dari api yang terpanas di mezbah korban bakaran (Why. 8:3). Lalu dia memasuki pintu Bait Suci dan mengatur bara api di mezbah ukupan.
Pada saat diperintahkan, dia menambahkan kemenyan ke atas bara api di atas mezbah (Why. 8:4). Pada saat-saat yang penting ini, tiga hal terjadi. Seseorang melemparkan sekop ke bawah (Why. 8:5) di antara mezbah korban bakaran dengan pintu masuk Bait Suci. Terhentinya nyanyian oleh paduan suara Bait Suci menimbulkan keheningan sejenak (Why. 8:1). Dan pada saat keheningan itu ketujuh imam akan meniup ketujuh sangkakala (Why. 8:2, 6).
Yohanes mendasarkan sepertiga bagian pertama Kitab Wahyu pada tamid, korban sehari-hari di Bait Allah. Dupa melambangkan kebenaran Kristus diterapkan pada doa-doa orang kudus sepanjang Era Kekristenan. Latar ini meyakinkan kita bahwa kebenaran Kristus yang sempurna menutupi dosa-dosa kita, bahkan ketidaksempurnaan perbuatan-perbuatan baik kita.


Tuhan, terima kasih atas jaminan bahwa aku boleh bersama Engkau hari ini, tidak peduli betapa pun tak berharganya aku merasa.

1 Juni

DAN KETIKA ANAK DOMBA ITU MEMBUKA METERAI YANG KETUJUH, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya” (Wahyu 8:1).

Ini mungkin saat terbaik untuk menelaah kembali Wahyu 4-7 dan secara singkat memikirkan tentang implikasinya terhadap gambaran keseluruhan.
Pasal 4—Di sini kita memperoleh uraian secara umum tentang ruang takhta surgawi tanpa satu titik waktu tertentu dalam benak kita.
Pasal 5—Adegan beralih pada suatu peristiwa penting. Suatu krisis terjadi di surga saat Anak Domba yang telah disembelih terbukti layak untuk membuka gulungan kitab beserta meterai-meterainya.
Pasal 6—Tujuh peristiwa selanjutnya, masing-masing berhubungan dengan dibukanya ketujuh meterai, ditutup dengan puncak peristiwa sejarah bumi dalam meterai keenam dan ketujuh.
Pasal 7—Dua kelompok yang menyaksikannya mengajukan jawaban atas pertanyaan dalam Wahyu 6:17, “Siapakah yang sanggup bertahan?”
Interpretasi terbaik pasal-pasal ini ada dalam Wahyu 3:21. Pasal itu berisikan intisari Wahyu 4-7. Ayat 21 menyinggung tentang takhta Bapa (Why 4), Yesus bersama-sama Bapa-Nya di atas takhta-Nya (Why 5), dan umat-Nya berkumpul bersama-sama Yesus takhta (Why. 7:15-17). Allah memberikan janji yang luar biasa ini kepada semua yang “menang.” Berbicara tentang itulah Wahyu 6—pergumulan umat Allah untuk menang dari waktu ke waktu yang dimulai sejak zaman penyaliban hingga Kedatangan yang kedua kali.
Duduk bersama Yesus di takhta-Nya menyiratkan kekuasaan, namun ada gambaran yang jauh lebih mencengangkan daripada itu. Itu juga tentang bersama-sama di atas takhta!
Walaupun keluarga saya telah memutuskan hidup tanpa siaran televisi, sesekali kami menikmati video. Di ruang tamu kami ada sofa serta bangku panjang yang dapat menampung semua sahabat dan anggota keluarga. Saya senang sekali duduk bersama istri di sofa dan menonton video bersama-sama. Perasaan berbagi pengalaman bersama-sama dan bersentuhan dapat mempererat ikatan di antara kami. Namun istri saya punya keinginan yang aneh (menurut saya). Sering dia ingin agar kami duduk berdempetan di bangku panjang itu. Kami sungguh sangat dekat. Walau otot saya kesemutan dan peredaran darah rasanya terputus, efeknya bagi hubungan kami sangat bagus!
Saya melihat gambaran seperti itu di dalam Wahyu 3:21. Yesus bukan hanya menawarkan kepada kita tempat yang penting, tetapi menawarkan hubungan yang benar-benar erat dan tidak ada akhirnya. Pribadi terbesar di alam semesta ini ingin meluangkan saat-saat yang sungguh intim bersama saya di Tempat-Nya. Itu membuat saya begitu ingin “menang,” lebih dari apa pun, motivasi untuk seumur hidup!


Tuhan, aku takjub pada janji-Mu yang mengagumkan kepada kami. Aku akan memercayai Engkau yang membukakan jalan bagiku ke takhta-Mu!

31 Mei

MEREKA TIDAK AKAN MENDERITA LAPAR DAN DAHAGA LAGI, DAN MATAHARI ATAU PANAS TERIK TIDAK AKAN MENIMPA MEREKA LAGI. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka." (Wahyu 7:16,17).

Saya tidak akan melupakan lembah Raja-raja! Ketika itu saya sedang mengunjungi Mesir bersama sekelompok mahasiswa tingkat master. Karena di Mesir hujan jarang turun, sebagian besar negara tersebut menghijau dalam raduia tiga hingga lima mil dari Sungai Nil, tetapi lewat dari itu, pat padang gurun yang gersang. Tanah merupakan serbuk halus tanpa sehelai lalanh pun!
Untuk tiba di lembah Raja-raja, kami menyeberangi sisi barat Sungai Nil naik perahu lalu berkendara naik bus kurang lebih beberapa mil hingga barada di jalur zona irigasi. Suhunya sekitar 50˚C atau 122˚F dan sangat kering. Kami mengunjungi makam Raja Tut dan beberapa lainnya hari itu. Karena makam-makam itu merupakan gua-gua buatan, sungguh melegakan dapat memasukinya untuk beberapa saat. Namun segera kami mendapati bahwa para pengunjung membawa kelembapan tersediri ke dalam makam. Kelembapan yang tinggi mengalahkan suhu yang lebih sejuk di bawah tanah. Jadi selama beberapa jam perpaduan antara suhu tingggi du luar dengan kelembapan di bawah tanah menguras tenaga kami, hingga kami kelelahan dan sangat haus.
Saat kembali ke bus, tidak ada yang lebih kami inginkan selain segera kembali ke hotel yang ber-AC. Tapi ternyata tidak demikian. sopir bersikeras membawa kami ke toko batu pualam putih favoritnya. Dengan kesal kami memasuki toko tersebut. Tiba-tiba, di sudut gelap toko tersebut saya melihat sebuah kulkas kecil dengan tanda Sprite di atasnya. Di dalamnya terdapat lusinan botol-botol Sprite! Segera saya membeli satu dan meminumnya sekali teguk. Lalu saya membeli satu lagi, dan lagi, dan lagi. Agaknya saya tidak bisa berhenti. Grup kami menyikat habis seluruh isi kulkas dalam waktu beberapa menit saja.
Para sarjana mengamati uraian tentang surga di dalam Kitab Wahyu sebagai sesuatu yang negatif. Bukannya menjelaskan seperti apa surga nantinya, pasal itu malah menjelaskan tidak seperti apa surga nantinya. Surga itu bukan tempat dimana kita akan merasa lelah, lapar, dan haus. Bukan juga tempat seperti Lembah Raja-raja, dimana panas membakar kita. Tidak aka nada lagi air mata di sana. Kehidupan surgawi  berarti tiadanya segala sesuatu yang akan menyakiti atau membuat kita menderita. Dan jika di surga tidak aka nada kulkas berisi Sprite saat kita membutuhkannya, di sana aka nada sesuatu yang lebih baik!


Tuhan, aku berdoa, supaya Engkau membuat pikiranku terfokus pada masa depan yang luar biasa yang telah Engkau sediakan bagiku, yaitu surgawi.