Tampilkan postingan dengan label Yohanes Selesai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yohanes Selesai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2013

6 April


“Dan sekeliling takhta itu ada DUA PULUH EMPAT TAKHTA, DAN DI TAKHTA-TAKHTA ITU DUDUK DUA PULUH EMPAT TUA-TUA, YANG MEMAKAI PAKAIAN PUTIH DAN MAHKOTA EMAS DI KEPALA MEREKA.” (Wahyu 4:4)

Di sepanjang abad, salah satu isu utama dalam Wahyu 4 adalah sehubungan dengan 24 tua-tua yang muncul juga di beberapa pasal lainnya. Siapakah mereka? Dari mana mereka datang? Apakah peran mereka sehubungan dengan takhta Allah? Ke-24 tua-tua duduk mengelilingi takhta Allah dan masing-masing duduk di takhta yang terpisah. Mereka terlihat seperti makhluk surgawi atau sejenisnya, tetapi Kitab Wahyu tidak pernah menjelaskan siapa mereka sebenarnya. Mari kita lihat beberapa angka penting : 3, 4, 7, dan 12. Lalu akar bilangan untuk tua-tua itu adalah 12. Dan 12 + 12 = 24. Hal ini menimbulkan kemungkinan bahwa tua-tua ini sepertinya berhubungan dengan 144.000 di Wahyu 7 dan 14. Angka 144 juga terdiri dari 12 x 12, sementara angka 24 terbuat dari 12 + 12. Kombinasi ini  kembali lagi dalam deskripsi tentang Yerusalem Baru dengan 12 fondasi dan 12 pintu gerbang. Ke-12 fondasi  berkaitan dengan 12 rasul Tuhan, lalu 12 pintu gerbang dihubungkan dengan 12 suku Israel.
Satu opini yang populer mengenai 24 tua-tua adalah bahwa mereka adalah sekelompok malaikat. Walaupun opini ini bisa jadi masuk akal, angkanya tidak demikian. Tidak pernah dalam Alkitab maupun Yudaisme mula-mula mendapati malaikat-malaikat di sebut sebagai tua-tua. Lagi pula, tidak ada dalam tulisan-tulisan kuno yang menggambarkan malaikat duduk di atas takhta, dan mereka juga tidak mengenakan mahkota kemenangan (stephanos), karena 24 tua-tua itu mengenakannya. Sepanjang waktu penyusunan Kitab Wahyu, istilah ini selalu dihubungkan dengan Tuhan atau umat-Nya.
Kemungkinan paling baik adalah bahwa tua-tua ini adalah para pemimpin umat Tuhan dari zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Gambaran Yerusalem Baru mungkin dapat juga mendukung hal itu. Kalau memang benar, maka ke-24 tua-tua mewakili seluruh orang-orang percaya di sepanjang zaman, menggabungkan peran ke-12 rasul dan ke-12 suku. Mereka mewakili umat manusia di hadapan Tuhan.
Apakah Wahyu 4 menyatakan secara tidak langsung bahwa ke-24 tua-tua ini telah berada di ruang takhta surga sebelum Yesus tiba di sana? Masa waktu persiapan upacara pengukuhan di surga sedang berjalan, maka perwakilan dari manusia pun dipersilahkan untuk memasuki ruang takhta sebelum upacara dilaksanakan. Dengan ini, maka seluruh utusan semesta alam, termasuk dari manusia, akan dapat menyatakan persetujuan mereka pada saat penobatan Kristus. Kesimpulannya adalah : Siapapun ke-24 tua-tua ini, mereka adalah perwakilan manusia di hadapan Allah.

Tuhan, kami bersyukur karena manusia masih berharga di hadapan-Mu. Karena itu aku akan selalu percaya pada-Mu dalam segala hal dalam hidupku.

Kamis, 04 April 2013

5 April


“Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, SEBUAH TAKHTA TERDIRI DI SORGA, dan di takhta itu duduk Seseorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.” (Wahyu 4:2,3)

Pemandangan seperti apakah yang kita lihat disini? Apakah suatu penjelasan umum tentang takhta di surga ataukah penjelasan tentang sesuatu yang terjadi pada suatu waktu tertentu? Setelah dipelajari dengan berhati-hati ternyata menjadi jelas bagi saya, pasal 4 bukannya menggambarkan suatu kejadian khusus tetapi hanya penjelasan umum tentang ruang takhta surga dan apa yang terjadi di dalamnya secara teratur.
Dalam ayat kita hari ini, tidak disebutkan bahwa takhta itu sedang dibuat, hanya dijelaskan bahwa “sebuah takhta berdiri di surga.” Ketika Yohanes tiba pada pemandangan itu, takhta itu sudah berada di sana. Tidak ada hal baru di sana, kecuali nabi itu sekarang sedang mengamatinya. Pemandangan itu sama seperti yang terjadi pada Daniel 7, tetapi dengan sebuah perbedaan. Daniel 7 menggambarkan takhta itu “telah diletakkan” (Daniel 7:9). Bagian ini menjelaskan kejadian yang spesifik. Tetapi lain halnya dengan Wahyu 4.
Secara umum pemandangan ini, bahkan tampak lebih jelas dalam Wahyu 4:9. Di sana dikatakan “setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya.” Dalam tata bahasa Yunani, “setiap kali makhluk-makhluk itu … tersungkurlah ke dua puluh empat tua-tua itu… ” menunjukkan kegiatan yang berulang, terjadi berkali-kali dan oleh sebab itu bukan menggambarkan suatu kejadian dalam waktu tertentu atau merujuk pada peristiwa yang terjadi di bumi atau di surga.
Kita bisa melatih diri untuk lebih suka memperhatikan Alkitab sehingga pengertian yang seperti ini dapat bermunculan di mana saja. Hal ini mengingatkan saya ketika mengambil kelas fotografi. Tugas pertama kami adalah mengambil foto pohon sebanyak-banyaknya. Pohon yang berdiri sendiri, beberapa pohon berdekatan, hutan, cabang pohon, ranting pohon, bunga di pohon. Guru kami berkata, “Habiskan satu rol foto hanya untuk mengambil foto pohon saja dengan segala bentuknya. Tujuan tugas ini adalah untuk mengajar bagaimana mengamati lingkungan sehingga menyadari hal-hal yang tidak di perhatikan sebelumnya.” Mempelajari Alkitab juga memiliki efek yang sama. Kita akan semakin menyadari kehendak Tuhan dan jalan-jalan-Nya, dan sebagai hasilnya hidup kita tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.

Tuhan, tolong berikan aku mata yang baru, supaya aku dapat melihat Firman-Mu  dalam cara yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya, cara yang sama seperti Engkau maksudkan.

Rabu, 03 April 2013

4 April


“Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, SEBUAH TAKHTA TERDIRI DI SORGA, dan di takhta itu duduk Seseorang.” (Wahyu 4:2)

Salah satu hal pokok dalam setiap kunjungan ke Istanbul, Turki, adalah kesempatan berjalan mengelilingi Istana Topkapi, istana sultan yang terkenal. Terletak di sebuah bukit memandang ke arah Bosporus dan Tanduk Emas. Saya khususnya sangat menyenangi sebuah kunjungan ke istana museum di mana harta benda sultan di pamerkan, satu bagian yang tak terlupakan adalah ketika saya melihat takhta sultan di perlihatkan. Saya belum pernah melihat takhta sebelumnya, dan yang satu ini mengejutkan saya. Bentuknya kira-kira seperti sebuah tanduk yang besar, tinggi, dengan bantalan yang nyaman.
Biasanya takhta berbentuk seperti kursi biasa dengan sandaran tangan, tetapi takhta yang saya saya lihat bentuknya lebih luas. Lalu saya teringat ayat ini : “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” (Wahyu 3:21). Melihat gambaran ini sudah pasti takhta Allah tidak hanya selebar kursi biasa, tetapi besar dan luas. Yesus telah menerima segalanya yang dilambangkan takhta itu, dan menawarkan takhta itu bagi mereka yang menang dalam pertandingan iman.
Kalau kita baca Wahyu 4 dengan hati-hati, kita menemukan bahwa “takhta” adalah kata kunci dari seluruh pasal. Kata ini muncul sebanyak 12 kali dalam pasal ini, dan pusat serta fokus segala peristiwa. Segala sesuatu yang terjadi di ruang takhta surga ternyata selalu berhubungan dengan takhta. Serangkaian kata depan menandakan berbagai tindakan. Hal-hal yang terjadi “seputar” takhta, “di atas” takhta, “keluar dari” takhta, “di hadapan” takhta, “di tengah” takhta, dan “di sebelah kanan” takhta. Sebagian kata kunci dari pasal ini, takhta mewakili tema sentral segala sesuatu yang terjadi di dalamnya.
Sebenarnya apakah takhta itu, dan apakah yang dilambangkannya? Sebuah takhta menunjukkan hak untuk memerintah. Orang yang duduk di atas takhta menunjukkan hak untuk memerintah. Orang yang duduk di atas takhta memiliki otoritas untuk memerintah sebuah wilayah, sebuah bangsa,  atau apapun yang terdiri dari sekelompok orang. Karena takhta terletak di tengah-tengah, maka isi kunci dari pasal ini adalah bahwa Tuhan memiliki hak untuk memerintah dan otoritas itu berlaku di surga. Kitab Wahyu sering menghubungkan kata “takhta” dengan Allah. Hal itu juga dapat diaplikasikan kepada Setan dan para pengikutnya (Wahyu 2:13 ; 13:2). Karena takhta terletak di tengah-tengah, maka pasal ini menuliskan suatu perkembangan yang menentukan dalam konflik antara Tuhan dan Setan, yang memperebutkan alam semesta. Wahyu 4 dan 5 menggambarkan suatu peristiwa yang penting sekali dalam perang, sehingga kematian Anak Domba Allah akan menghasilkan pujian bagi Tuhan.

Tuhan, aku percaya bahwa Engkau memiliki hak untuk memerintah hidupku tiap hari. Biarlah kiranya keputusanku dan tindakanku hari ini setuju dengan kehendak Allah dalam hidupku.

3 April


“Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu APA YANG HARUS TERJADI SESUDAH INI.” (Wahyu 4:1)

Setelah menuliskan ketujuh surat kepada ketujuh gereja, Yohanes melanjutkan memaparkan sebuah suara yang mengundang Dia untuk mengamati sebuah pemandangan surga. Mulai dari sini fokus utama terletak pada hal-hal yang terjadi di masa depan dari sudut pandang Yohanes (kemungkinan 95 M). Mengapa menulis sebuah buku tentang masa depan? Karena Allah ingin kita tahu bahwa kita dapat memercayai-Nya untuk membawa kita kepada tujuan akhir kita.
Di tahun 1992 saya bersama keluarga besar saya mendapat kesempatan  untuk mengunjungi Disneyland di California selatan. Ketakutan terbesar saya dalam acara seperti itu adalah apabila grup yang besar ini akan terpisah. Saya sangat khawatir terutama dengan anak-anak saya, karena pada saat itu mereka masing-masing berumur 10, 6, dan 4 tahun. Saya menjelaskan kepada mereka, kalau seandainya mereka “hilang” yang harus mereka lakukan adalah berdiam di tempat dan menunggu kami datang menemukan mereka. Kalau setelah kira-kira satu jam atau lebih tidak ada yang datang, rencana kedua yang dilakukan adalah pergi ke pintu keluar dan menunggu di sana.
Semua berjalan lancar sampai pukul 09.30 malam. Setelah parade elektrikal selesai, terjadi kekacauan dan kami kehilangan anak perempuan kami yang berumur 10 tahun di dekat kastil di tengah-tengah taman. Segera saya katakana kepada semua orang untuk menunggu sementara saya masuk kembali ke dalam untuk mencari dia. Saya pergi ke tempat kami berdiri pada waktu parade berlangsung. Saya mulai panik, ketika saya tidak menemukan dia di area itu. Lalu saya pergi di pintu utama, juga tidak melihat dia. Tetapi saya melihat ada satu tempat yang agak gelap di dekat situ dan saya memutuskan untuk mencoba melihat ke sana. Baru saja saya beranjak menuju ke tempat itu, saya mendengar suara kecil memanggil , “Ayah?” Kepala saya menoleh seketika dan melihat dia sedang duduk di atas sebuah bangku. Dengan sukacita yang tidak telukiskan saya memeluk dia. Tidak ada satu kata omelan pun yang keluar dari mulut saya.
Ternyata dia lupa untuk berdiri diam di tempatnya, dan malahan pergi langsung ke rencana kedua, sehingga mengakibatkan kesedihan bagi keluarganya. Tetapi kami berbahagia karena pada akhirnya semua baik-baik saja. Tuhan memberikan Kitab Wahyu kepada kita, supaya kita tidak mengalami kesedihan yang sama. Sementara masa depan mulai dibukakan, dengan mengingat semua petunjuk yang ada di dalamnya, kita tidak akan hilang.

Tuhan, terima kasih telah menyediakan kepada kami petunjuk yang sangat. Berikan kami telinga yang suka mendengar dan hati yang mau mengerti.

Senin, 01 April 2013

2 April


“KEMUDIAN DARI PADA ITU AKU MELIHAT: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.” (Wahyu 4:1).

Kita tiba pada bagian kitab Wahyu yang menimbulkan kesulitan bagi para penerjemah, lebih dari pada bagian-bagian lain, yaitu mengenai meterai dan sangkakala. Para penafsir tidak sepaham ketika harus mengahadapi begitu banyak bagian ayat di dalam Wahyu 4-11. Adalah sangat penting untuk membuat suatu interpretasi yang lengkap, bukan yang berdasarkan perasaan atau pemikiran yang disambungkan pada kejadian saat ini, tetapi yang berdasarkan apa yang tertulis. Satu-satunya cara yang aman untuk menafsirkannya adalah dengan mengerti sedekat mungkin apa maksud dan tujuan pengarang menuliskan pasal ini. Ketika kita mengerti latar belakang tulisan tersebut, barulah kita dapat menariknya untuk diaplikasikan pada zaman kita saat ini.
Dari tahun 1986 hingga 1992 saya bertemu dengan komite Daniel dan Wahyu di General Conference. Itu adalah pengalaman yang sangat menarik dan kaya, saling bertukar ide dengan 20-25 sarjana Alkitab terkemuka dari seluruh dunia perihal isu-isu yang berkaitan dengan Kitab Wahyu. Dalam waktu tiga  tahun, kami mendengarkan enam buah penjelasan yang berbeda tentang Wahyu 4 dan 5. Masing-masing ditulis oleh ahli Alkitab yang berpengalaman, menjabarkan kedua pasal ini dari sudut pandang tertentu. Akan tetapi komite memutuskan untuk menolak seluruh penjelasan.
Sudah sering saya membaca teks bahasa Yunani dari Wahyu 4 dan 5. Tiba-tiba saya tersadar. Tidak satupun dari kata-kata kunci  yang semestinya bisa mendukung keenam makalah tersebut ada di dalamnya. Para sarjana telah menawarkan “kesan” tentang apa yang menurut mereka sedang berlangsung, tetapi bahasa spesifik untuk menyokong gagasan mereka tidak ada di situ! Setelah membaca dan membaca ulang ayat tersebut, saya tiba pada kesimpulan yang sangat berbeda berkenaan dengan pesan dan tujuannya dibandingkan penulis-penulis lain.
Opini kita tentang Alkitab bukanlah terpenting. Yang vital adalah tujuan Allah melalui penulis dan metode dengan mana kita menemukan tujuan tersebut. Kita perlu mulai dengan berkomitmen pada Firman Allah, tidak peduli opini apa  yang mungkin kita bawa ke dalam studi kita. Lalu kita harus mengamati dengan cermat  kata-kata dalam konteks, dan membiarkan setiap kata mendapat tempatnya sendiri di dalam menyingkapkan pesan yang Allah ingin agar kita lihat. Satu-satunya kebenaran  yang penting adalah kebenaran sesuai yang Dia maksudkan.

Tuhan, aku bertobat setiap kali aku datang kepada Firman-Mu untuk menegaskan kembali apa yang telah aku pikirkan. Bantu aku untuk bersedia menerima hikmat-Mu dengan persyaratan-Mu.

Minggu, 31 Maret 2013

1 April


“KEMUDIAN DARI PADA ITU AKU MELIHAT: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.” (Wahyu 4:1).

Pemandangan Wahyu 4 dan 5 adalah satu yang paling dramatis dalam Alkitab. Bahkan lebih luar biasa dalam bahasa aslinya dibandingkan dalam terjemahannya. Saya belum pernah membaca ayat ini dalam bahasa Yunani tanpa air mata menggenangi mata karena suatu penggambaran yang luar biasa menggetarkan pikiran saya, ketika saya membayangkan bagaimana rasanya beribadah di surga. Adegan dimulai dengan perlahan-lahan, tetapi semakin lama semakin keras, hingga seluruh alam semesta bersatu dalam paduan suara besar menggemakan pujian kepada Anak Domba serta Dia yang duduk di atas takhta (Wahyu 5:11-14). Adegan berakhir saat keempat makhluk mengucapkan kata “Amin” yang diikuti oleh keheningan yang sunyi senyap.
Bahaya yang dihadapi para pembaca saat membaca ayat seperti Wahyu 4 dan 5 adalah kecenderungan  untuk terlalu fokus  pada detail-detailnya sehingga melewatkan tujuan utamanya. Tujuannya adalah menggambarkan kebesaran ruang takhta surgawi, kebesaran Allah, dan dengan demikian, kekuasaan dan kemuliaan dunia terlihat seperti debu. Ketika kita dapat melihat sekilas pintu gerbang surga yang terbuka, sangat tidak dimengerti kita takut kepada kekuatan dunia atau bahkan kepada seseorang khususnya. Pasal ini mengundang kita untuk membuang semua intimidasi dunia ke dalam bayangan kekuasaan Allah sebagai yang layak untuk disembah. Bila kita sungguh-sungguh mengenal Allah, kita akan mengerti apa sebenarnya arti sebuah peribadatan sejati itu.
Itulah pesan yang perlu saya dengar. Sering saya membiarkan manusia menjauhkan jalan saya dari jalan yang Tuhan ingin agar saya tempuh. Seorang atasan pernah menggunakan suatu tekhnik pemerasan, dengan maksud saya mengkompromikan integritas saya untuk mempertahankan pekerjaan saya. Kesempatan lain, pengaruh seorang guru yang saya kagumi membuat saya mempertanyakan pengajaran-pengajaran Alkitab yang sudah sangat jelas. Bisakah Anda mengerti mengapa saya bertekuk lutut dalam situasi semacam ini? Dapatkah Anda menangkap kekuatan intimidasi serta daya tarik manusia yang begitu sering mengalihkan perhatian kita dari rencana Allah dalam kehidupan kita? Dengan mengenang ruang takhta surgawi, kita bisa merespons dalam satu cara : Bertobat, tunduk dan mengikuti Dia Satu-satunya yang pantas disembah.

Tuhan, aku merasa ditegur setiap kali aku mengkompromikan hati nurani untuk menyenangkan manusia. Hari ini aku memilih untuk bertobat danmengikuti hanya Engkau saja.

Sabtu, 30 Maret 2013

31 Maret


“BARANGSIAPA MENANG, IA AKAN KUDUDUKKAN BERSAMA-SAMA DENGAN AKU DI ATAS TAKHTA-KU, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat." (Wahyu 3:21,22).

Janji ini benar-benar istimewa yang tidak segera menjadi jelas sampai Anda mengamati ketujuh janji kepada para pemenang di dalam ketujuh surat kepada jemaat-jemaat. Dalam urutan maju, masing-masing jemaat menerima janji yang makin lama semakin banyak.
Jemaat Efesus menerima satu janji : Sang pemenang akan memperoleh hak untuk makan  dari pohon kehidupan. Jemaat Smirna memperoleh dua janji. Wahyu 2:10,11, menawarkan kepada pemenang di Smirna mahkota kehidupan dan dia tidak akan menderita oleh kematian yang kedua. Ayat 17 menawarkan kepada pemenang di Pergamus tiga hal : Manna yang tersembunyi, batu putih, dan nama baru yang akan dituliskan pada batu putih. Jemaat di Tiatira total empat janji di dalam ayat 26-28. Pemenang di Tiatira memperoleh otoritas atas bangsa-bangsa. Dia akan memerintah mereka dengan tongkat besi, akan memukul mereka hingga berkeping-keping, dan juga akan dikaruniakan bintang timur. Pemenang di Sardis (Wahyu 3:4,5) berjalan bersama Yesus dan berpakaian putih, juga memperoleh jaminan bahwa tidak akan ada yang sanggup menghapuskan nama mereka dari kitab kehidupan. Malahan nama mereka akan diakui di hadapan Bapa dan malaikat-malaikat-Nya.
Saat ini seharusnya tidak mengherankan bahwa jemaat keenam, Filadelfia, menerima enam janji dari Yesus. Menurut Wahyu 3:10-12, Allah akan melindungi pemenang pada masa pencobaan, mereka akan menjadi sokoguru di dalam Bait Suci Allah, dan mereka tidak akan pernah pergi lagi dari situ. Sebagai tambahan, Allah akan menuliskan nama mereka selain juga nama kota Allah dan nama Yesus yang baru. Jadi ada enam janji. Jika Anda menjumlahkan janji-janji keenam jemaat yang pertama, Anda akan memperoleh total 21 janji, tujuh kali tiga!
Apakah itu berarti Laodikia akan memperoleh tujuh janji? Tidak. Malah sebenarnya hanya satu janji. Tapi itu adalah janji yang mengakhiri semua janji. Dalam ayat 21, pemenang di Laodikia akan duduk bersama-sama Yesus di atas takhta-Nya! Satu janji ini menggabungkan ke-21 janji yang diterima oleh keenam jemaat lainnya. Jika Anda duduk bersama-sama Yesus di atas takhta-Nya, Anda memiliki segalanya.
Sama seperti Laodikia adalah yang paling tak berpengharapan di antara ketujuh jemaat, maka jemaat itu juga memperoleh  janji yang terbaik. Jemaat yang tidak memiliki apa-apa menerima janji yang terbaik! “Di mana dosa semakin banyak, di situ kasih karunia menjadi bertambah-tambah.”

Tuhan, dalam kehidupanku yang penuh dengan kebutuhan, biarlah aku dapat menuntut janji-Mu yang besar.

Jumat, 29 Maret 2013

30 Maret


“Lihat, AKU BERDIRI DI MUKA PINTU DAN MENGETOK; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan MEMBUKAKAN PINTU, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Wahyu 3:20)

Yesus menggambarkan diri-Nya berdiri di muka pintu kepada Jemaat Laodikia, mengetuk dan menunggu sambutan untuk dipersilahkan masuk. Pintu Filadelfia adalah pintu keselamatan. Kristus yang membukakan, dan tidak seorangpun dapat menutupnya. Tetapi disini pintu tersebut ditutup bukan oleh Yesus, tetapi oleh Jemaat Laodikia sendiri. Itu merupakan kiasan dari Kidung Agung. Perhatikan kisah di balik perbandingan ini.
“Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. "…
"Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan mengenakannya lagi? Kakiku telah kubasuh, apakah aku akan mengotorkannya pula?"
“Kekasihku memasukkan tangannya melalui lobang pintu, berdebar-debarlah hatiku.
Aku bangun untuk membuka pintu bagi kekasihku,…Tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya.” (Kid. 5:2-6).
Isteri Salomo yang pertama adalah putri Firaun, raja Mesir (1 Raj. 3:1,2).
Meskipun didasarkan pada kesepakatan politik, tampaknya suatu pernikahan yang dilandasi cinta akhirnya berkembang. Walaupun belakangan Salomo membangun suatu harem yang sangat besar, riset baru-baru ini mendapati bahwa dia menjalani pernikahan yang monogami selama 20 tahun pertama (1 Raj. 9:9 ; 10 ; 11:1-4). Urusan cinta berkembang sedemikian sehingga kontak langsung antara raja dan ratu mungkin hanya jarang-jarang saja terjadi, karena mereka tinggal di istana yang terpisah walaupun saling berhubungan (1 Raj. 7:7,8).
Cerita dalam kisah ini mungkin bercerita tentang seorang wanita spesial dalam harem Salomo, yang mungkin adalah favoritnya. Dia berharap sang raja akan mendatanginya malam itu. Setelah menunggu dan menunggu, akhirnya dia menyerah dan pergi tidur. Lalu kekasihnya datang! Namun dalam kantuknya dia tidak melompat bangun dan mengundangnya masuk. “Tidak, tidak sekarang. Rasanya aku tidak ingin bangun dan mengenakan jubahku lagi. Kakiku akan kotor lagi.” Lalu dia berubah pikiran dan berlari ke pintu lalu membukanya. Sedihnya, sang kekasih telah pergi.
Ini adalah skenario mengerikan jika diterapkan pada gereja. Yesus tidak akan memaksa masuk, tetapi membiarkan gereja untuk memilih. Pesan yang ingin disampaikan disini adalah bahwa gereja tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Jika Laodikia tidak segera bertindak, akan terlambat jadinya.

Tuhan, bawalah aku mendekat kepada pintu hatiku hari ini. Aku tidak ingin terlambat membukakan pintu hatiku kepada-Mu.

Kamis, 28 Maret 2013

29 Maret


“Barangsiapa Kukasihi, ia KUTEGOR DAN KUHAJAR; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:19)

Kita hidup di dunia dimana konseling dan psikologi mengajar kita bersikap lemah lembut terhadap orang lain dengan kesadaran bahwa kita mengalami suatu penderitaan yang sama. Sebagai akbatnya, kita memandang perilaku salah orang lain sebagai suatu penyakit, bukannya dosa. Dan memang benar bahwa kita semua hingga tingkatan tertentu telah menjadi korban. Namun hasil pendekatan ini bisa jadi keeangganan untuk mendengar teguran, sekalipun dari mulut Yesus sendiri. Hanya sedikit orang ingin mendengar Allah berbicara keras kepada kita. Faktanya, Yesus menegur mereka yang Dia kasihi, dan seringkali dengan keras. Konfrontasi yang sejati dapat menghindarkan banyak sakit hati.
Pasukan Angkatan Darat Jerman sedang menapaki bukit. Di bawah mereka terbentang sungai Rhine, penuh dengan bongkahan salju yang mencair. Bahkan pada jarak ini pun, kehadiran Jerman sudah melanggar Perjanjian Versailles 1918. Menaiki menara tank, sang Komandan menghentikan barisan dan menatap ke kejauhan. Meriam-meriam Perancis di sisi seberang tetap bungkam. Barisan bergerak perlahan, mendengarkan bunyi artileri pertama. Tank-tank mengarungi batas air dan menyebar tanpa insiden tidak bersedia mengawali peperangan, pihak Perancis tidak berbuat apa-apa. Bertahun-tahun kemudian, setelah perang berakhir, barulah pihak Sekutu mendapati adanya perintah rahasia dari Hitler agar pasukannya meyeberangi sungai Rhine pada pagi hari di bulan Maret 1936 itu. Dia memberi tahu mereka bila melihat tanda-tanda perlawanan Perancis dimulai, mereka harus mundur.
Kita tidak pernah tahu pasti, tetapi mungkin kemanusiaan akan dapat mengubah jalannya Perang Dunia II seandainya hari itu Perancis memberikan perlawanan. Seandainya reputasi Hitler tercoreng, para jenderalnya mungkin tidak begitu kooperatif dengannya. Jutaan nyawa mungkin dapat terselamatkan seandainya Hitler mendapati di tahun 1936 itu negara-negara lain akan bertanggung jawab atas pelanggaran perdamaian.
Para pemimpin sekutu takut terhadap konflik bersenjata, tetapi mereka gagal untuk menghindarinya. Dan tidak adanya tindakan di pihak mereka menjadikan keadaan menjadi lebih buruk. Ketika itu baik orang-orang Jerman maupun para pemimpin angkatan bersenjata mereka, sebenarnya tidak ada yang siap untuk berperang. Perlawanan akan memaksa Hitler mundur. Pihak sekutu terlalu takut untuk memeranginya, memberi Hitler peluang untuk menambah angkatan bersenjatanya. Saat perang benar-benar pecah, kekuatan Hitler sudah jauh lebih kuat, dan dia sanggup memulai peperangan pada waktu yang dipilihnya. Disini kita bisa melihat bahwa menunda konfrontasi hanya akan membuat konflik bertambah parah.

Tuhan, terima kasih ketika Engkau menegur aku melalui Firman-Mu.

28 Maret


“Barangsiapa KUKASIHI, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (Wahyu 3:19).

Natal adalah musim yang menarik bagi seorang anak berumur 6 tahun. Nicholas yang duduk di taman kanak-kanak, sibuk menghafalkan lagu-lagu untuk acara pertunjukan musim dingin sekolahnya. Sebuah acara ulangan diadakan pagi hari, dan para orang tua yang kebetulan jadwalnya padat pada malam itu punya kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan.
Kebanyakan sekolah umum di Amerika telah berhenti menyebut ini sebagai “Natal”, jadi orang tua Kristen tidak mengharapkan lebih selain acara hiburan khas liburan serta kegembiraan. Dan tidak mengherankan jika semua anak mengenakan sarung tangan dan sweater merah, dengan topi rajutan warna cerah di kepala mereka. agak mengherankan jadinya, saat kelas Nicholas bangkit berdiri untuk menyanyikan “Christmas Love”.
Anak-anak di baris depan satu per satu memegang huruf-huruf berukuran besar, mengeja judul lagu mereka. Saat anak-anak menyanyikan lagu “C untuk Christmas”, seorang anak mengacungkan huruf C. Lalu “H untuk Happy” dan selanjutnya, hingga kelompok itu selesai mengeja pesan “Christmas Love”. Pementasan berjalan mulus hingga semua orang mulai melihat seorang gadis kecil pendiam di baris depan memegang huruf M dengan terbalik, dia tidak sadar bahwa hurufnya terlihat seperti W. Seluruh hadirin mulai dari kelas satu hingga kelas enam menertawakan kesalahannya. Tetapi dia tidak tahu kalau mereka menertawakannya, sehingga dengan bangganya dia berdiri sambil memegang huruf W.
Meskipun guru-guru berusaha menenangkan anak-anak, gelak tawa terus berlanjut hingga huruf terakhir diangkat. Hadirin terdiam dan mata terbelalak. Dalam sekejap semua orang menyadari alasan sebenarnya mengapa mereka merayakan musim liburan ini, alasan sebenarnya untuk semua kemeriahan ini. Karena ketika salah seorang anak mengacungkan tinggi-tinggi huruf terakhir, pesan yang disampaikan sangat jelas, “Christ was Love!”
Kata “kasih” jarang disebut dalam Kitab Wahyu. Yesus mengasihi kita (Wahyu 1:5); Jemaat Efesus telah meninggalkan kasih mereka yang pertama (Wahyu 2:4); dan jemaat Tiatira memperlihatkan kasih, kesabaran, serta pelayanan besar (ayat 19). Yesus mengasihi jemaat Filadelfia (Wahyu 3:9); umat Allah yang tidak mengasihi nyawa mereka hingga pada kematian (Wahyu 12:11); dan orang-orang di luar kota Yerusalem yang mengasihi kepalsuan (Wahyu 22:15). Jadi Kitab Wahyu menekankan pada teguran dan disiplin lebih daripada kasih. Ini membuat ayat di atas sangat penting, karena walaupun hal buruk terkadang menimpa umat Allah, tangan-Nya yang penuh kasih tetap menuntun segala sesuatunya untuk kebaikan kita.

Tuhan, Engkau memercikkan kasih-Mu dalam hidupku, sekalipun aku cenderung mengabaikannya. Bukakan mataku untuk dapat melihat itu hari ini.

27 Maret


“Maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga PAKAIAN putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan KETELANJANGANMU YANG MEMALUKAN; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat MELIHAT.” (Wahyu 3:18)

Meskipun pekabaran kepada ketujuh jemaat memiliki nilai universal, Yesus tentu saja menyapa jemaat abad pertama serta kondisinya melalui hamba-Nya Yohanes. Tapi Jemaat Laodikia tak menerima nasihat yang disampaikan .
Setelah melewati saluran-saluran air kuno, bus akan menurunkan Anda di dasar gundukan, yang puncaknya ternyata lading seorang petani. Saat Anda berjalan melintasi ladang, Anda akan melihat ke bawah dan menatap dengan perasaan takjub, Anda pun sadar bahwa sebuah kota besar berada di bawah tanah. Selanjutnya, orang bisa melihat sisa-sisa tempat pemandian umum srta struktur lain mencuat dari dalam tanah. Laodikia telah ditinggalkan lebih dari 1.500 tahun! Betul, jemaat di Laodikia benar-benar telah dimuntahkan dari mulut Yesus (Wahyu 3:16), karena dia tidak ada lagi.
Dalam pengertian lain yang lebih mendalam, Laodikia masih tetap bertahan. Penulis Kitab Wahyu tampaknya mengaitkan jemaat ini dengan umat Allah pada zaman Akhir ini, yang menghadapi peperangan terakhir dalam sejarah bumi ini, Harmagedon. Anda lihat, nasihat Yesus yang ditawarkan kepada Laodikia di dalam ayat kita hari ini menggemakan nasihat yang diberikan kepada mereka yang sedang menghadapi Harmagedon (Wahyu 16:15). Dua ayat mengandung empat kata bahasa Yunani : “Pakaian”. “memalukan”, “ketelanjangan” serta bentuk kata kerja dari melihat. Tidak ada ayat lain dalam Alkitab memiliki perpaduan kata-kata yang sama.
Perhatikan Wahyu 16:15 : Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya." Kata-kata untuk pakaian dan telanjang sudah jelas, bahkan dalam terjemahan. Kata yang diterjemahkan kelihatan kemaluannya mewakili dua kata bahasa Yunani untuk “melihat” dan “kemaluan”. Saat Allah berseru kepada generasi terakhir di bumi ini, Dia menggunakan bahasa Laodikia! Walaupun kota Laodikia sudah mati, sesuatu tentang dia masih ada terus hingga zaman akhir.
Jadi dalam pengertian tertentu, pekabaran kepada Laodikia mewakili para pengikut Yesus yang mengalami krisis terakhir dari sejarah bumi ini. Allah memanggil mereka yang tersisa untuk menerima nasihat yang ditujukan kepada Laodikia dan untuk berpegang erat-erat pada kekayaan sejati yang Allah tawarkan. Pekabaran kepada jemaat Laodikia, dalam pengertian khusus juga ditujukan kepada kita.

Tuhan, aku membutuhkan jubbah kebenaran-Mu hari ini. Beri aku visi yang jelas untuk membedakan yang baik dan yang jahat dalam apapun yang menimpaku.

26 Maret


“AKU MENASIHATKAN ENGKAU, SUPAYA ENGKAU MEMBELI DARI PADA-KU EMAS YANG TELAH DIMURNIKAN DALAM API, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.” (Wahyu 3:18).

Emas yang telah dimurnikan dalam api melambangkan jenis iman yang bertahan hingga pada kesudahannya. Saya percaya iman seperti itu pada dasarnya karunia dari Allah, tetapi ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkannya.
Ketika saya mengejar gelar doctor, dalam satu diskusi dengan seorang kolega, membuat saya benar-benar syok. Dia telah bekerja selama bertahun-tahun sebagai pendeta di luar Amerika Utara. Dia bercerita kepada saya bahwa di tempat asalnya, topik diskusi nomor satu di antara para hamba Tuhan adalah apakah Allah eksis atau tidak! Sungguh perlu mempertahankan kehidupan bersama dengan Tuhan, dan di zaman tekhnologi yang sangat sekular ini bukanlah perkara mudah. Kita hidup di zaman krisis rohani.
Di dunia Barat, krisis rohani ini terutama melanda mereka yang tumbuh dewasa dalam pergolakan tahu 1960-an. Banyak hal yang dulunya diturunkan sebagai sebuah kepastian, terbukti menjadi fakta yang perlu dipertanyakan. Beberapa hal yang diajarkan sebagai  “kebenaran Allah” agaknya lebih ditujukkan agar orang-orang tetap pada kekuasaannya. Akibatnya, generasi saya merasa dikhianati dan cenderung mempertanyakan segala sesuatunya.
Diperkenalkannya tekhnologi komputer dan internet secara fundamental telah mengubah cara orang-orang berpikir dan berlogika. Kecepatan serta kompleksitas kehidupan ini bertambah secara pesat. Tampaknya tidak ada lagi yang stabil. Pekerjaan-pekerjaan mengalami perampingan, begitu gaji Anda sudah lumayan. Di mana Anda tinggal lebih merupakan suatu kebetulan daripada niat. Sebagai akibatnya, keluarga-keluarga besar mendapati diri mereka terpecah-belah.
Di masa-masa penuh tantangan ini kita perlu secara sadar dan sengaja mengembangkan hubungan dengan Allah. Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membicarakannya. Sering-seringlah membicarakannya dalam berbagai konteks. Iman akan diperkuat saat Anda membagikannya. Mengutip perkataan Ellen G. White : “Semakin Anda membicarakan iman, semakin besar iman yang Anda peroleh”. Luangkan waktu untuk bersama orang-orang yang dipenuhi iman. Setiap hari ingatkan diri Anda untuk menerima emas yang Yesus tawarkan dan izinkan situasi hidup ini menyepuh emas tersebut hingga menjadi kilau yang bertahan lama.

Tuhan, di tengah kesibukan sehari-hari begitu mudah untuk hidup dari jam ke jam tanpa kebergantungan kepada-Mu. Aku ingin meletakkan Engkau di pusat perhatianku hari ini. Tumbuhkanlah imanku.

Sabtu, 23 Maret 2013

24 Maret


“Karena engkau berkata: AKU KAYA DAN AKU TELAH MEMPERKAYAKAN DIRIKU DAN AKU TIDAK KEKURANGAN APA-APA, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang” (Wahyu 3:17)

Apakah yang salah dengan Laodikia? Dalam pengertian manusia, tidak ada. Kota itu telah berhasil mencapai semua yang didambakan manusia : kenyamanan, kemudahan, terpenuhi semua kebutuhannya. Tetapi Laodikia adalah sebuah jemaat dan Yesus Kristus telah memanggil jemaat kepada kehidupan yang mau berkorban diri. Jemaat harus meninggalkan zona nyamannya dan mengambil resiko yang radikal untuk menyebarkan Injil kepada mereka yang membutuhkan.
Bruce Olson bercerita tentang upayanya menyebarkan Injil kepada orang-orang Motilon di wilayah terpencil Amerika Selatan. Ia mempelajari bahasa mereka, dan penduduk di sana akhirnya menerima kehadirannya. Akhirnya kawan Motilon terkaribnya menjadi seorang Kristen , tetapi yang lain-lainnya nyaris tak menanggapi upayanya. Satu kebiasaan Motilon mencakup sesi menyanyi marathon yang mana, sambil bergelantungan di tempat tidur gantung di atas tanah, mereka menyanyikan kabar yang mereka dengar dan alami hari sebelumnya. Sepanjang festival itu, Olson mendengar, saat sahabat karibnya, Kristen Motilon yang pertama, menyanyikan kisah tentang Yesus, serta kisah tentang pertobatan pribadinya. Selama 14 jam, sementara kepala suku tetangga yang sebelumnya bermusuhan, mengulanginya kata demi kata, not demi not, Injil pun berkumandang di hutan malam itu.
Meskipun memperlihatkan perkembangan yang positif, sang misionaris merasa tidak nyaman dengan apa yang terjadi. “Kelihatannya begitu kafir” katanya, “musik dilantunkan dalam anak tangga minor yang janggal, kedengaran seperti musik tukang sihir. Kelihatannya begitu menurunkan martabat Injil. Namun demikian, saat saya menatap orang-orang di sekliling saya dan sang kepala suku, bergelantungan di tempat tidur gantung, saya melihat mereka sedang mendengarkan seolah-olah seluruh hidup mereka bergantung kepadanya. Bobby sedang menyampaikan kebenaran melalui lagunya.”
Bagaimana mungkin Allah bisa bernyanyi kepada orang-orang Motilon kecuali lewat bahasa musikal yang dapat berkomunikasi  kepada mereka? Zona nyaman ala Laodikia sang misionaris telah menjadi rintangan bagi penyebaran Injil. Jika menyangkut pada hal-hal rohani, dia berpikir bahwa caranya adalah satu-satunya cara yang benar, musik Kristen favoritnya adalah satu-satunya cara untuk menyampaikan Injil. Karena dia tidak mampu bergerak melewati zona nyamannya, Allah mendahuluinya dan menyanyi kepada orang-orang Motilon dengan cara mereka.

Tuhan, ganggulah zona nyamanku dan pakai aku untuk berhubungan dengan beberapa orang yang terhilang hari ini.